Showing posts with label Kuliah Jurnalisme. Show all posts
Showing posts with label Kuliah Jurnalisme. Show all posts

Pertemuan III: Efek Digital Terhadap Jurnalisme

3 komentar
Efek era digital terhadap jurnalisme ini, dengan jelas terlihat pada cara foto dan film yang kini dapat diproduksi dengan singkat dan mudah. Di masa lalu, prosesnya akan memakan waktu lama. Untuk tiba di ruang redaksi, kadang-kadang klise foto harus dikirim melalui jarak yang jauh, memakai kendaraan, kreta api, kapal bahkan pesawat. Itu pun masih membutuhkan waktu lama di ruang gelap untuk proses cetak. Sekarang semua dapat dilakukan sekaligus dengan menggunakan kamera digital, handphone, bahkan komputer laptop. Sesaat setelah gambar diambil dengan kamera digital dapat dengan segera disambungkan dengan kabel atau bluetooth ke komputer, dan dalam hitungan detik komputer dengan segera membaca dan mendownload foto dan menampilkan ke layar komputer.
Editor gambar di ruang redaksi atau di kator berita hanya butuh waktu beberapa menit untuk mengecek kualitas gambar dan menambahkan keterangan sebelum dikirim secara otomatis melalui jaringan internet ke mana saja hendak dikirimkan di seluruh dunia. Gambar juga dapat didesain ulang, sehingga dapat ditampilkan sebagai desain web, dalam bentuk tampilan gerak (mis. Slite-show). Bahkan, kamera digital dapat sekaligus merekam gambar gerak sekaligus merekam komentar atas gambar yang bisa diputarkan kembali.
Editor surat kabar juga bisa menggunakan sistem kontrol menggunakan internet untuk melihat dan memberitahu kameramen, gambar mana yang mesti diambil, dari jarak ribuan mill. Era digital tengah mengubah Jurnalistik untuk selamanya. Sekarang siapa pun yang memiliki akses ke Internet dapat menikmati berita apa saja yang mereka inginkan, dapat berlangganan secara personal dengan penyedia berita, yang hanya akan mengirimkan berita yang mereka inginkan langsung ke account pribadi mereka. Organisasi media besar meng-update beritanya ke seluruh dunia setiap saat. Dengan kata lain, era digital jurnalisme memungkinkan konsumen menikmati berita yang mereka butuhkan pada saat mereka menginginkan. Media menjadi sangat personal.
Interaktif
Era digital jurnalisme juga lebih interaktif. Sebelumnya, proses jurnalistik berlangsung searah, dan kita harus percaya pada para editor, reporter dan fotogarafer dan mengambil apa yang mereka sodorkan. Ini tidak berlaku lagi. Diskusi bahkan perdebatan terhadap semua issu semakin diperkaya pada era digital. Kita dapat dengan mudah mengomentari, mengeritik, memberikan koreksi terhadap sebuah berita.
Era digital bagi jurnalistik juga berarti mengambil bentuk dan cara baru dalam penulisan dan pengeditan. Penulisan jurnalistik lama berdasar pada cara bercerita linear, sering kita sebut piramida terbalik (akan kita diskusikan nanti). Ini menyediakan kepada pembaca, pendengar atau pemirsa rangkuman lead, dan memberikan detailnya dalam bentuk teratur. Ini akan bekerja baik di halaman cetak, namun tidak lagi di layar komputer. Dengan hypertex sekarang memungkinkan jurnalis menuliskan berita secara online yang multidimensi. Jurnalis dapat membentuk berita secara berbeda, dan membiarkan pembacara mengambilnya menurut cara mereka sendiri. Mungkin seorang pembaca akan mengklik kata-kata kunci atau istilah-istilah teknis, yang lain ke tulisan terkait mengenai fakta yang ditampilkan di dalam berita. Setiap berita online dapat dibaca dengan banyak cara, dan seluruhnya tergantung selera pembaca. Link atau pautan dibuat untuk ide-ide terkait, yang sangat berbeda dengan pendekatan jurnalisme lama, yang dikompilasi, disusun logis, dan analitis.
Internet juga memungkinkan jurnalis mendapatkan fakta-fakta dengan cara yang sangat berbeda. Mencari fakta sekarang amat mudah. Namun demikian, pelaporan melalu internet berarti bahwa seorang jurnalis tetap harus mengecek fakta-fakta dan tidak mengambilnya bulat-bulat, hanya karena sumbernya mengatakan benar. Siapa pun dapat menaruh apa pun di Internet. Luciano Floridi (1995) berpendapat bahwa Internet tampil seperti perpustakaan raksasa di mana setiap setengah jam sejumlah buku ditumpukkan di pintunya dan setiap hari mengubah posisi buku di rak-raknya.”
Era digital berarti bahawa informasi beralih dari tangan pemerintah ke tangan para jurnalis. Itu juga berarti sebuah kesempatan baru untuk jurnalisme modern. Pengolahan kata adalah produk pertama yang masuk di ruang redaksi, spreadsheets serta data base untuk penyimpanan dan analsis data menyusul. Kemudian, Internet mengubah secara radikal strategi pencarian sumber-sumber berita dan informasi.
Kekuatan Database
Dat base sebenarnya mirip dengan kartu-kartu file di masa lalu. Jika kita ingin mencari informasi khusus, misalnya orang tertentu, ini menjadi mudah. Jika kita ingin data statistik dan data base komputer melalui internet akan melakukanna untuk kita. Spreadsheet terdiri atas kolom dan garis-garis, dengan sel di setiap pertemuan. Sell ini berisi teks, gambar dan rumus-rumus. Misalnya, saat seorang jurnalis menulis berita mengenai dana pemerintah, jusrnalis dapat memasukkan data ke spreatsheet dan komputer akan otomatis menghitung hasil-hasil total dananya.
Data base dan jaringan tekoneksi sungguh tidak ternilai bagi seorang wartawan. Semua bentuk dokumen, informasi terbaru dapat ditemukan dengan mudah. Ini mengubah tugas jurnalis di era digital. Dari pada mencari informasi yang tertutup, kini adalah menyeleksi informasi paling berharga dan penting.
Mengambil bagian dalam milis diskusi adalah salah satu cara terbaik untuk tetap mendapatkan informasi mengenai berita-berita dan mengupdate diri dengan mudah. Melalui email, situs pribadi seperti blog, dapat menjadi sumber yang baik. Setiap orang adalah seorang jurnalis di era digital.
Tantangan Nyata Bagi Jurnalis
Jurnalis era digital harus menjadi seorang spesialis yang mengetahui bagaimana mencari informasi di web dan menjadikannya berita. Pembaca tidak mempunyai training dan kemampuan untuk ini. Kesempatan emas online, kata Katherine Fulton, adalah menemukan jalan untuk memberikan informasi kepada orang-orang secara mendalam dan efektif.
Pertanyaannya adalah apakah orang masih akan berpaling kepada jurnalis atau seseorang yang lain dalam 10-20 tahun lagi, saat mereka membutuhkan filter informasi yang lebih baik. Jurnalis, yang telah kehilangan demikian banyak otoritasnya dan sikapnya dalam kebudayaan kita, akan kembali mencari haknya dalam dua bidang ini.
Pada level paling sederhana, mengumpulkan berita terdiri atas tiga tahap: mendapatkan ide; menemukan informasi; menulis beritanya. Menggunakan internet untuk pelaporan membantu jurnalis di era digital untuk melokalisir dan mengumpulkan informasi. Menyeleksi, verifikasi, dan menulis masih tetap menjadi hal personal dan kreatif, dan itu membutuhkan training, pengetahuan dan pengalaman.
Baca Selengkapnya.....

Pertemuan II: Journalisme di Era Digital

0 komentar
Situasi di Indonesia
Di Indonesia, di tahun 2009 sudah 25 juta penduduk menggunakan internet, dan jumlahnya akan terus bertambah. Angka ini mencapai sekitar10% dari total jumlah penduduk saat ini (237 juta).

Surat kabar cetak di Indonesia sudah mulai memiliki edisi online sejak akhir 90-an. Tampilan surat kabar online di internet yang pertama di Indonesia dirintis oleh Harian Republika dengan terbitnya RepublikaOnline.Com edisi internet koran itu pada tahun 1995. Beberapa artikel utamanya ditampilkan di situs web, yang dibaharui setiap hari sesuai periode terbit edisi cetaknya. Harian Kompas menyusul dengan menampilkan artikel-artikel pilihan secara online, yang mulanya diberi nama Kompas Online.Com, tetapi kemudian menjadi Kompas Cyber.com yang redaksinya dikelolah terpisah. Majalah Tempo yang dibredel rejim Suharto, muncul dengan edisi online yang diberi nama Tempo Interaktif. Beritanya dibaharui hampir setiap saat, tidak lagi mingguan sebagaimana edisi cetaknya. Munculnya situs berita online seperti Astaga!, BolehNet, Satunet, kemudian Detik.com semakin menambah daya tarik internet bagi pengusaha media di Indonesia.


Kecenderungan ini dirangkum oleh pernyataan surat kabar berbahasa Inggris di Jakarta, The Jakarta Post:
“Going online has become a necessity for businesses, the media in particular, expecting to progress to the next millennium. Recent development in Indonesia shows that the Web is the future of news and information as evidenced by the increasing number of media publications available over the Internet”.
Selanjutnya ditegaskan,
“As the largest English newspaper in Indonesia, The Jakarta Post has anticipated this trend and has dedicated a considerable amount of time and resources to preparing its website. We are proud to announce that the online version of our newspaper is now vailable on the Web.”
Sekarang, hampir semua surat kabar sudah memiliki edisi online, termasuk surat kabar lokal di daerah-daerah. Beberapa kelompok koran besar bahkan memiliki edisi terpisah serta sejumlah besar media berita murni berbasis internet (tidak ada edisi cetak), semuanya disajikan dalam tampilan menarik di internet. Bagi media, nternet adalah masa depan bagi jurnalisme. Apalagi, Internet bukan lagi untuk para ahli semata, tetapi juga bagi orang-orang biasa. Dan, terbukti Internet telah menjadi media yang fun, asyik dan mudah digunakan. Baca Selengkapnya.....

Pertemuan I : Fungsi Teori bagi Praktik Jurnalisme

1 komentar
Jika drama Shaksepeare, Romeo dan Juliet, terdiri dari 7 babak, jurnalisme memiliki 3: belajar, mempraktikkan, dan memenage. Setiap teori jurnalistik praktis harusnya menyangkut tiga hal ini, dan harus benar-benar berdasar pada kebutuhan jurnalisme, bukannya untuk kepentingan ilmu lain. Pada kuliah pengantar ini, kita akan mengulas beberapa teori jurnalistik praktis, yang menyatukan study mengenai dan praktik dalam jurnalisme penyiaran dan cetakan, bahkan sekarang mesti lebih luas lagi, karena sekarang kita benar-benar berada di era digital, di mana seluruh proses jurnalistik telah berubah. Mengumpulkan dan mengirimkan berita, kini semuanya digital. Seluruh proses di ruang berita tampaknya sudah serba digital juga.

Jurnalisme adalah segala sesuatu tentang berita dan informasi. Jurnalisme mencari berita dan melaporkannya. Jurnalisme adalah soal mengumpulkan fakta-fakta, memutuskan bagaimana meramunya, dan membuat keputusan penting, fakta-fakta mana yang diambil dan mana yang diabaikan. Jurnalistik adalah soal berbicara dengan orang-orang, rasa ingin tahu, berpikir jernih, dan mampu menerjemahkan gagasan-gagasan rumit menjadi sederhana, sehingga semua orang dapat memahaminya. Jurnalisme juga adalah soal menganalisa dan menginterpretasi peristiwa demi peristiwa; memahami bagaimana pemerintahan, politik, bisnis, industri dan masyarakat modern dijalankan.; dan mampu membuat cerita (stories) menarik mengenai semua peristiwa yang terkait dengan itu. Oleh karena itu, jurnalistik mengandung keterampilan-keterampilan praktis dan dasar-dasar intelektual yang luas, yang memberikan kredibilitas untuk melaporkan. Namun, demikian Jurnalisme berbeda dengan disiplin lain karena disiplin jurnalistik dibangun dari integrasi antara praktis dan teoritis. Teori selalu dalam hubungan dengan keterampilan praktis. Hukum dan etika, misalnya, tidak memisahkana entitasnya sejauh yang berlaku bagi jurnalisme: teori dimasukan ke setiap proses mengumpulkan, melaporkan dan mengkomunikasikan serta menyatu dengan keterampilan-keterampilan praktis. Setiap teori jurnalisme, yang berciri intelektual itu, melebur dan tidak terpisahkan dari keterampilan jurnalisme.

Sebuah teori yang praktis akan membantu jurnalisme memperluas pemahaman, menguji beragam teori, dan menerapkan sebagai solusi bagi masalah-masalah dalam proses pengumpulan dan pelaporan berita, dan pada saat yang sama mengembangkan keterampilan-keterampilan kreatif. Bagi jurnalis, kemampuan ini juga membantu meningkatkan keterampilan-keterampilan yang dapat berguna sepanjang hidup, bukan hanya dalam jurnalisme. Hal-hal ini menyangkut kemampuan komunikasi, semangat, kepercayaan diri, kepemimpinan, kerjasama dan kerja tim, kebebasan, otonomi dan kemampuan menilai diri sendiri. Jurnalis juga membutuhkan keterampilan interpersonal untuk mempengaruhi orang lain, mendengarkan dan bernegosiasi; keterampilan mengelola waktu dan project, mengatasi masalah, dan tentu saja Teknologi Informasi. Tapi sekali lagi, tidak ada yang berdiri sendiri, ini semua menjadi bagian dari teori paktis.

Paling tidak ada 8 fungsi utama sebuah teori praktis bagi jurnalisme:

1. Kemampuan memahami apa yang membuat sebuah cerita menarik; menemukan angle terbaik, menyampaikan dengan menarik dan dengan antusias kepada pembaca, pendengar dan pemirsa.
2. Bepengalaman menggunakan beragam teori yang terkait dengan mengumpul, menulis dan melaporkan berita.
3. Pemahaman kritis mengenai jurnalisme melalui pendekatan sarat informasi, analistis, dan kreatif untuk praktik professional
4. Keterampilan yang bisa ditularkan melalui penulisan, aktivitas interpersonal dan verbal dalam kerangka teoritis dan praktis.
5. Kemampuan analisis rasional dan berargumen
6. Pemahaman terhadap semakin rumit dan canggihnya kemajuan-kemajuan teknologi di dalam profesi jurnalisme.
7. Adanya kepekaaan social terhadap jurnalisme, dan tanggung jawab etis pribadi
8. Adanya awarness terhadap teknologi terbaru, seperti teknologi computer untuk ruang berita dan satelit komunikasi.

Wartawan Siaran dan Cetak harus memiliki kemampuan:

a. Memahami kosakata dasar berita dan jurnalisme
b. Memahami teori-teori penting dalam kajian jurnalisme
c. Mencari informasi dari beragam sumber tercetak maupun elektronik
d. Menggunakan informasi, konsep dan teori untuk menformulasi argument
e. Menganalisa masalah dan menformulasikan tanggapan terhadapnya
f. Menyediakan informasi dan argument secara oral, dan mahir berdiskusi dengan orang lain.
g. Menciptakan informasi dan argument seperti tulisan, cerita yang menarik dan akurat.
h. Bekerja secara tim
i. Memiliki kemampuan praktis dalam menulis dan melaporkan
j. Memiliki pengetahuan mengenai implikasi hukum dan etika dari berita
k. Mengetahui tekonologi terbaru dan pelaporan system computer
l. Menggunakan teknik-teknik terbaru dalam mengedit dan memproduksi untuk menghasilkan halaman dan layout atau program yang menyenangkan dan menarik.
m. Mengapresiasi beragam isu metodologi dan masalah-masalah dalam jurnalisme
n. Memahami teori-teori terbaru dan pendekatan-pendekatan teoritis terhadap praktik jurnalisme.
o. Membaca dan memahami penilaian kritis terbaru terhadap jurnalisme
p. Melaporkan dalam wilayah spesifik sampai yang paling umum dalam bidang jurnalisme.


Karena itu teori dan praktik jurnalisme harusnya menyediakan:

1. Cukupan yang luas mengengai pengetahuan-pengetahuan dasar jurnalisme
2. Kemampuan professional dalam pelaporan dan penulisan
3. Kemandirian berpikir dan kepekaan penilaian.

Pentingnya kemampuna intelektual - karenanya teoritis- bagi jurnalis mencakup bidang yang luas. Pengetahuan mengenai masyarakat di mana mereka hidup dan bekerja, ekonomi, politik, sosiologi, sejarah, hubugan internasional, dst. memerlukan pondasi yang layak dalam keterampilan professional.

Masih ada beragam hal-hal khusus di bidang penyiaran misalnya: self-motivation, kemampuan jurnalistik, dedikasi, news judgement, panampilan on-air, kepribadian, kualitas suara, penampilan fisik, pengalaman siaran, dan kwalitas audition tape. Baca Selengkapnya.....

Mata Kuliah Dasar-Dasar Jurnalisme

2 komentar
M
ata kuliah ini akan membahas teori dan praktek mencari berita, pengautan informasi dan data, profesi jurnalisme, teknik pendalaman  dan pengembangan berita (in-depth news), serta aspek bahasa dan etika jurnalistik untuk media cetak, media siaran dan internet. Bahan dasar kita adalah Buku Journalism in The Digital Age: Theory and Practice for Broadcast, Print and On-line Media, karya John Herbert. Dan buku Digitizing  the News: Innovation in Online Newspapers, karya Pablo Boczkowski.
Baca Selengkapnya.....
 
BloggerTheme by BloggerThemes | Design by Pius Sujarno | Midified by Arek Palopo