ARS SCRIBENDI (the art of writing): FRAMING: REKONSTRUKSI FENOMENA SOSIAL COVER TEMPO “THE LAST SUPPER”
Baca Selengkapnya.....
Andreas Harsono: Menulis Butuh Tahu dan Berani: "Untuk Luh Putu Ernila Utami di Bali, Aku tidak menulis makalah saat aku membawakan sesi soal menulis itu. Minggu lalu, aku mulanya mengira ..."
Baca Selengkapnya.....
Andreas Harsono: Menjawab Sapariah Saturi-Harsono: "Untuk Sapariah, Aku kira keputusan kamu untuk tak menurunkan profil usaha Puspo Wardoyo di halaman Jurnal Nasional punya dasar yang benar...."
Baca Selengkapnya.....
Andreas Harsono: Apakah Wartawan Perlu Dipidanakan?: "Oleh Andreas Harsono Naskah untuk ceramah “Hukum dan Kebebasan Pers” di Universitas Negeri Semarang, 10 Maret 2008, dengan panelis Nyoman S..."
Baca Selengkapnya.....
Andreas Harsono: Empat Model Media: "Saya baru pulang dari media conference selama empat hari, oleh Hong Kong University bekerja sama dengan East West Center, dimana mereka bik..."
Baca Selengkapnya.....
Ada banyak hal dapat Anda tulis untuk majalah, daripada sekadar memasukkan nama Anda ke Gadis, Hai atau Cosmo. Ribuan majalah baru diluncuran setiap tahun. Itu adalah pasar yang gemuk buat para penulis lepas. Kenyataannya, sekarang jumlahnya lebih besar,karena banyak lagi majalah yang terbit online.
Jadi, bagaimana menulis artikel majalah yang bernilai jual? Saya ambilkan tips dari Situs Daily Writing Tips, dengan tambahan pengalaman saya sendiri- yang keren abis berikut:
Apa yang Artikel Majalah Lakukan
Hampir semua artikel majalah melakukan satu dari empat hal ini. Artkel majalah menyediakan informasi, menambah pengetahuan kita mengenai satu subjek. Ia memberi panduan, membantu kita mengatasi masalah. Ia membujuk kita terhadap suatu sudut pandang khusus. Artikel majalah menghibur kita. Bahkan, beberapa artikel melakukan lebih dari satu, bersamaan.
Bagaimana Membentuk Artikel Majalah
Pada saat bersiap menulis, Anda perlu berpikir bagaimana struktur artikelnya. Menulis artikel majalah, Anda dapat mengabaikan bentuk piramida terbalik penulisan berita. Sebaliknya, Anda bisa membangunnya dari poin-point penting atau tempatkan point-point penting di sepanjang artikel.
Bercerita Kisah
Hal kunci yang harus diingat adalah bahwa Anda bercerita sebuah kisah kepada pembaca. Itu berarti Anda butuh permulaan, pertengahan, dan penghujung cerita. Itu juga berarti Ada perlu berpikir ke mana Anda membawa pembaca dengan menciptakan alur logis hingga ke penghujung kisah.
Gagasan "bercerita sebuah kisah" ini sangat bagus. Ini saya termukan saat mengunjungi situs yang menawarkan saran untuk penulisan fiksi. Bentuk "tiga aksi" tampaknya menarik juga dipakai sebagai model bagi tulisan singkat non fiksi, dan karenanya saya coba dan ternyata sangat membantu saya menulis artikel majalah yang singkat, dan berdaya jual.
• Aksi temukan gagasan yang akan kita masukkan ke calon artikel. Jika gagasan itu baru bagi pembaca, mereka butuh penjelasan. Pada ujung Aksi 1, pembaca mungkin menemui masalah, conflik atau peluang-sesuatu yang butuh solusi, Inilah "karakter utama" artikel kita. Karena itu, mereka segera tahu, bagian lanjutan artikel masih layak dibaca.
• Aksi 2 dalami masalah, perlihatkan contoh-contoh, perjelas ide menarik, gunakan analogi yang lebih akrab dengan pembaca Jika atikel mengundung konflik, pembaca tentu ingin tahu bagaimana konflik muncul dan mengapa masih terjadi. Kalau topiknya peluang, pembaca butuh bagaimana mengambil manfaat, sulit atau lebih mudah dari yang nampaknya. Segera beri solusi yang mudah dan simple bagi pembaca Anda. Pembaca yang mendalami karakter utama: masalah/konflik/peluang, biasanya telah mengembangkan resolusi mereka sendiri.
• Aksi 3 atasi masalahnya. Bagian-bagian diurutkan, dan pembaca memiliki paling kurang gagasan bagaimana hal itu akan berlangsung. Karakter utama -pertanyaan-dimengerti, karakter pembantu-sarana-sarana tersedia dan halangan minimal-dikenali.
Ngomong-ngomog, saran menempatkan point-point penting, pengungkapan, anekdot atau kutipan membantu saya melewati perasaan kurang enak, "bagaimana bagaimana saya mengakhir semua ini?"
Memulai Artikel Majalah Anda
Hal pertama yang Anda butuh adalah bagaimana orang tertarik membanca artikel Anda, karenanya Anda butuh menemukan cara menggaet mereka. Ketika saya mewawancara orang, saya kadang-kadang memulai menuliskan artikelnya dengan kutipan atau anekdot dari kehidupan mereka. Namun demikian, Anda dapat juga membentuk pemandangan atau apa pun demi menarik perhatian.
Pertengahan
Sepanjang artikel Majalah, Anda berbicara secara personal dengan pembaca. Orang suka membaca mengenai orang lain, maka jika dalam wawancara muncul hal menarik, gunakan kutipan daripada melaporkan ucapan. Ini akan membuat artikel majalah Anda lebih menarik.
Mengakhiri Artikel Majalah Anda
Akhirya, akhiri dengan satu kejutan kuat. Ini dapat berupa point-oint penting, pengungkapan, anekdot atau kutipan. Gagasannya, selain memuaskan pembaca sekalian meraih peluang pembaca tertarik membaca tulisan-tulisan Anda berikutnya.
Nilai Ekstra
Sewaktu meriset untuk satu artikel, kadang-kadang Anda punya informasi yang kurang pas dimasukkan ke dalam tulisan utama. Jangan abaikan ini. Gunakan untuk membuat sebauh kolom kecil atau table (editor akan suka ini) atau sebagai jalan masuk untuk artikel Anda berikutnya. Baca Selengkapnya.....
Jadi, bagaimana menulis artikel majalah yang bernilai jual? Saya ambilkan tips dari Situs Daily Writing Tips, dengan tambahan pengalaman saya sendiri- yang keren abis berikut:
Apa yang Artikel Majalah Lakukan
Hampir semua artikel majalah melakukan satu dari empat hal ini. Artkel majalah menyediakan informasi, menambah pengetahuan kita mengenai satu subjek. Ia memberi panduan, membantu kita mengatasi masalah. Ia membujuk kita terhadap suatu sudut pandang khusus. Artikel majalah menghibur kita. Bahkan, beberapa artikel melakukan lebih dari satu, bersamaan.
Bagaimana Membentuk Artikel Majalah
Pada saat bersiap menulis, Anda perlu berpikir bagaimana struktur artikelnya. Menulis artikel majalah, Anda dapat mengabaikan bentuk piramida terbalik penulisan berita. Sebaliknya, Anda bisa membangunnya dari poin-point penting atau tempatkan point-point penting di sepanjang artikel.
Bercerita Kisah
Hal kunci yang harus diingat adalah bahwa Anda bercerita sebuah kisah kepada pembaca. Itu berarti Anda butuh permulaan, pertengahan, dan penghujung cerita. Itu juga berarti Ada perlu berpikir ke mana Anda membawa pembaca dengan menciptakan alur logis hingga ke penghujung kisah.
Gagasan "bercerita sebuah kisah" ini sangat bagus. Ini saya termukan saat mengunjungi situs yang menawarkan saran untuk penulisan fiksi. Bentuk "tiga aksi" tampaknya menarik juga dipakai sebagai model bagi tulisan singkat non fiksi, dan karenanya saya coba dan ternyata sangat membantu saya menulis artikel majalah yang singkat, dan berdaya jual.
• Aksi temukan gagasan yang akan kita masukkan ke calon artikel. Jika gagasan itu baru bagi pembaca, mereka butuh penjelasan. Pada ujung Aksi 1, pembaca mungkin menemui masalah, conflik atau peluang-sesuatu yang butuh solusi, Inilah "karakter utama" artikel kita. Karena itu, mereka segera tahu, bagian lanjutan artikel masih layak dibaca.
• Aksi 2 dalami masalah, perlihatkan contoh-contoh, perjelas ide menarik, gunakan analogi yang lebih akrab dengan pembaca Jika atikel mengundung konflik, pembaca tentu ingin tahu bagaimana konflik muncul dan mengapa masih terjadi. Kalau topiknya peluang, pembaca butuh bagaimana mengambil manfaat, sulit atau lebih mudah dari yang nampaknya. Segera beri solusi yang mudah dan simple bagi pembaca Anda. Pembaca yang mendalami karakter utama: masalah/konflik/peluang, biasanya telah mengembangkan resolusi mereka sendiri.
• Aksi 3 atasi masalahnya. Bagian-bagian diurutkan, dan pembaca memiliki paling kurang gagasan bagaimana hal itu akan berlangsung. Karakter utama -pertanyaan-dimengerti, karakter pembantu-sarana-sarana tersedia dan halangan minimal-dikenali.
Ngomong-ngomog, saran menempatkan point-point penting, pengungkapan, anekdot atau kutipan membantu saya melewati perasaan kurang enak, "bagaimana bagaimana saya mengakhir semua ini?"
Memulai Artikel Majalah Anda
Hal pertama yang Anda butuh adalah bagaimana orang tertarik membanca artikel Anda, karenanya Anda butuh menemukan cara menggaet mereka. Ketika saya mewawancara orang, saya kadang-kadang memulai menuliskan artikelnya dengan kutipan atau anekdot dari kehidupan mereka. Namun demikian, Anda dapat juga membentuk pemandangan atau apa pun demi menarik perhatian.
Pertengahan
Sepanjang artikel Majalah, Anda berbicara secara personal dengan pembaca. Orang suka membaca mengenai orang lain, maka jika dalam wawancara muncul hal menarik, gunakan kutipan daripada melaporkan ucapan. Ini akan membuat artikel majalah Anda lebih menarik.
Mengakhiri Artikel Majalah Anda
Akhirya, akhiri dengan satu kejutan kuat. Ini dapat berupa point-oint penting, pengungkapan, anekdot atau kutipan. Gagasannya, selain memuaskan pembaca sekalian meraih peluang pembaca tertarik membaca tulisan-tulisan Anda berikutnya.
Nilai Ekstra
Sewaktu meriset untuk satu artikel, kadang-kadang Anda punya informasi yang kurang pas dimasukkan ke dalam tulisan utama. Jangan abaikan ini. Gunakan untuk membuat sebauh kolom kecil atau table (editor akan suka ini) atau sebagai jalan masuk untuk artikel Anda berikutnya. Baca Selengkapnya.....
Sekian lama jadi rahasia umum, plagiarisme yang tumbuh subur seiring trend Copy+Cut+Paste berikut suburnya jasa jual beli skripsi berkedok biro konsultasi di pergurun tinggi, disorot lagi. Kalau saja tahu rahasia sukses membuat Skripsi/Tesis, tak banyak mahasiswa yang memilih jalan pintas dan kurang terhormat itu.
Dan ternyata, rahasia sukses Skripsi/Tesis itu, justru ada pada tahap paling awal penggarapan, yakni pada tahap menulis Proposal Penelitian.
Dengan proposal, mahasiswa meyakinkan tim pembimbing dan penguji langkah-langkah penelitian yang akan ditempuhnya sehingga secara akademis dapat dipertanggungjawabkan. Dengan itu, mahasiswa dan tim pembimbing dapat melihat secara ringkas permasalahan, arti penting dan tujuan penelitian, langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan, termasuk solusi masalah yang kemungkinan diuji. Dengan demikian, baik tim pembimbing/penguji maupun mahasiswa sebagai penulis dapat dengan mudah mencermati keseluruhan komponen penelitian yang akan dilakukan.
Nah, bagaimana mengemas proposal yang ringkas, menarik dan baik? Buku Karya Ana Nadhya Abrar, “Terampil Menulis Proposal Penelitian Komunikasi” menawarkan satu metode sederhana dan aplikatif. Metode ini saya telah pakai membimbing mahasiswa membuat proposal penelitian di Program Studi Komunikasi Fisip Universitas Tadulako. Cukup efektif!
“Format proposal penelitian komunikasi yang universal biasanya menjelaskan tujuh matrix penelitian. Ketujuh matriks ini bisa ditulis dalam selembar kertas. Bila mahasiswa sudah bisa mengisi ketujuh matriks tersebut dengan lengkap, sebenarnya dia sudah bisa meneliti. Untuk meyakinkan dosen pembimbingnya, dia bisa menarasikan ketujuh matriks penelitian tersebut [dalam] bentuk proposal penelitian [yang standar kita kenal]” (Ana 2005: p 1)
Ketujuh matriks penelitian yang dimaksud adalah:
Tema penelitian Rumusan Masalah Objek Penelitian Pendekatan Teori Metode Penelitian Perspektif Penelitian
Tak usah repot dahulu membayangkan sebuah proposal lengkap. Cukup Anda mengisi masing-masing kotak/kolom matriks ini. Sebelum Anda menyusunya dalam sebuah format proposal penelitian yang standar, sebaiknya perlihatkan dahulu ke Dosen pembimbing, yang akan dengan mudah melihat secara komplet. Bila ada koreksi, Anda tinggal melengkapi tanpa harus mengubah apa pun. Ikuti langkah-demi langkahnya!
1. Tetapkan tema penelitian. Ini tentu saja harus berdasarkan objek kajian formal dan material ilmu Anda. Dalam bahasa lain, tema ini harus menyangkut fenomena keilmuan kita, katakanlah, fenomena komunikasi.
2. Berdasarkan tema yang sudah Anda tetapkan, barulah Anda bisa merumuskan permasalahan penelitian dalam bentuk pertanyaan dan dalam sebuah kalimat tanya yang utuh. Pertanyaan inilah, kelak harus Anda jawab setelah meneliti.
3. Tentukan objek penelitian Anda. Objek penelitian inilah yang akan memberikan data, yang pada gilirannya bisa menjawab rumusan masalah.
4. Sudah memiliki objek penelitian, kini saatnya Anda menetapkan pendekatan, yang anda akan pakai memandang objek penelitian Anda dalam sebuah sisi, katakanlah ekonomi. Pendekatan ekonomi terhadap sebuah objek penelitian menyebabkan Anda harus mencari semua teori ekonomi yang bisa memberikan jawaban konseptual terhadap rumusan masalah.
5. Nah, kini saatnya Anda memilih teori yang akan dipakai. Teori ini penting dalam penelitian karena ia menghasilkan sesuatu yang akan diukur dalam penelitian. Sesuatu itu bisa merupakan sebuah variabel, dimensi, dsb.
6. Anda barulah bisa menetapkan metode penelitian yang akan dipakai kalau sudah tahu persis variabel-variabel penelitian yang akan diukur.
7. Akhirnya, Anda masih perlu menentukan perspektif Anda. Perspektif ini penting untuk memberikan arah pada analisis. Semakin banyak perspektif yang Anda pakai semakin menyeluruh analisis data penelitian Anda nantinya.
Anda disarankan melaksanakan ketujuh langkah ini secara berurutan. Sebab, langkah pertama merupakan prasyarat bagi langkah kedua. Langkah kedua merupakan prasyarat bagi langkah ketiga, dst. Jadi, mustahil Anda bisa menentukan metode penelitian sebelum Anda bisa menentukan apa yang akan diukur dalam penelitian. Selamat Mencoba! Baca Selengkapnya.....
Dan ternyata, rahasia sukses Skripsi/Tesis itu, justru ada pada tahap paling awal penggarapan, yakni pada tahap menulis Proposal Penelitian.
Dengan proposal, mahasiswa meyakinkan tim pembimbing dan penguji langkah-langkah penelitian yang akan ditempuhnya sehingga secara akademis dapat dipertanggungjawabkan. Dengan itu, mahasiswa dan tim pembimbing dapat melihat secara ringkas permasalahan, arti penting dan tujuan penelitian, langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan, termasuk solusi masalah yang kemungkinan diuji. Dengan demikian, baik tim pembimbing/penguji maupun mahasiswa sebagai penulis dapat dengan mudah mencermati keseluruhan komponen penelitian yang akan dilakukan.
Nah, bagaimana mengemas proposal yang ringkas, menarik dan baik? Buku Karya Ana Nadhya Abrar, “Terampil Menulis Proposal Penelitian Komunikasi” menawarkan satu metode sederhana dan aplikatif. Metode ini saya telah pakai membimbing mahasiswa membuat proposal penelitian di Program Studi Komunikasi Fisip Universitas Tadulako. Cukup efektif!
“Format proposal penelitian komunikasi yang universal biasanya menjelaskan tujuh matrix penelitian. Ketujuh matriks ini bisa ditulis dalam selembar kertas. Bila mahasiswa sudah bisa mengisi ketujuh matriks tersebut dengan lengkap, sebenarnya dia sudah bisa meneliti. Untuk meyakinkan dosen pembimbingnya, dia bisa menarasikan ketujuh matriks penelitian tersebut [dalam] bentuk proposal penelitian [yang standar kita kenal]” (Ana 2005: p 1)
Ketujuh matriks penelitian yang dimaksud adalah:
Tema penelitian Rumusan Masalah Objek Penelitian Pendekatan Teori Metode Penelitian Perspektif Penelitian
Tak usah repot dahulu membayangkan sebuah proposal lengkap. Cukup Anda mengisi masing-masing kotak/kolom matriks ini. Sebelum Anda menyusunya dalam sebuah format proposal penelitian yang standar, sebaiknya perlihatkan dahulu ke Dosen pembimbing, yang akan dengan mudah melihat secara komplet. Bila ada koreksi, Anda tinggal melengkapi tanpa harus mengubah apa pun. Ikuti langkah-demi langkahnya!
1. Tetapkan tema penelitian. Ini tentu saja harus berdasarkan objek kajian formal dan material ilmu Anda. Dalam bahasa lain, tema ini harus menyangkut fenomena keilmuan kita, katakanlah, fenomena komunikasi.
2. Berdasarkan tema yang sudah Anda tetapkan, barulah Anda bisa merumuskan permasalahan penelitian dalam bentuk pertanyaan dan dalam sebuah kalimat tanya yang utuh. Pertanyaan inilah, kelak harus Anda jawab setelah meneliti.
3. Tentukan objek penelitian Anda. Objek penelitian inilah yang akan memberikan data, yang pada gilirannya bisa menjawab rumusan masalah.
4. Sudah memiliki objek penelitian, kini saatnya Anda menetapkan pendekatan, yang anda akan pakai memandang objek penelitian Anda dalam sebuah sisi, katakanlah ekonomi. Pendekatan ekonomi terhadap sebuah objek penelitian menyebabkan Anda harus mencari semua teori ekonomi yang bisa memberikan jawaban konseptual terhadap rumusan masalah.
5. Nah, kini saatnya Anda memilih teori yang akan dipakai. Teori ini penting dalam penelitian karena ia menghasilkan sesuatu yang akan diukur dalam penelitian. Sesuatu itu bisa merupakan sebuah variabel, dimensi, dsb.
6. Anda barulah bisa menetapkan metode penelitian yang akan dipakai kalau sudah tahu persis variabel-variabel penelitian yang akan diukur.
7. Akhirnya, Anda masih perlu menentukan perspektif Anda. Perspektif ini penting untuk memberikan arah pada analisis. Semakin banyak perspektif yang Anda pakai semakin menyeluruh analisis data penelitian Anda nantinya.
Anda disarankan melaksanakan ketujuh langkah ini secara berurutan. Sebab, langkah pertama merupakan prasyarat bagi langkah kedua. Langkah kedua merupakan prasyarat bagi langkah ketiga, dst. Jadi, mustahil Anda bisa menentukan metode penelitian sebelum Anda bisa menentukan apa yang akan diukur dalam penelitian. Selamat Mencoba! Baca Selengkapnya.....

"Karena itu, jangan takut media massa akan dikendalikan negara atau pemilik media, karena facebookers mampu mendorong publik menjadi kuat," kata Ketua Dewan Pengawas (Dewas) Perum LKBN ANTARA itu di Surabaya, Selasa.
Ia mengemukakan hal itu dalam ujian terbuka doktor di Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya
dengan promotor Prof Ramlan Surbakti, PhD (mantan wakil ketua KPU), dan akhirnya dinyatakan lulus dengan predikat "Sangat Memuaskan".
Ujian terbuka itu dihadiri sejumlah kolega, di antaranya Prof Sasa Djuarsa Sendjaja, PhD (Ketua KPI/UI), Freddy Tulung (Kepala Badan Informasi Publik Kemenkominfo), Dr Ishadi SK, MSc (Presdir Trans-TV), Asro Kamal Rokan ( anggota Dewas Perum LKBN ANTARA), dan Dr Ahmad Mukhlis Yusuf (Dirut Perum LKBN ANTARA).
Menurut doktor ke-1.172 di Unair yang pernah menjadi agen dan loper koran itu, konsentrasi kepemilikan media massa itu tidak perlu dikhawatirkan, karena "facebookers" akan menjadi penyeimbang opini yang tidak objektif.
"Apalagi, kosentrasi media itu sendiri merupakan keniscayaan sejarah, sebab teknologi informasi yang berkembang mendorong konvergensi media, sehingga televisi, radio, dan koran menjadi tidak jelas," paparnya.
Selain itu, kata pria kelahiran Yogyakarta pada tanggal 29 Maret 1963 itu, pemilik media massa tidak perlu dikhawatirkan akan mengendalikan opini yang berkembang, karena kontrol pemodal terhadap media massa itu tidak ada yang sempurna.
"Pak Harto adalah buktinya, bahkan detik-detik menjelang reformasi tahun 1998 justru menunjukkan sejumlah stasiun televisi milik anak-anak Pak Harto bersaing menayangkan aksi unjuk rasa dimana-mana," tuturnya.
Bahkan, kata alumnus S1 Ilmu Komunikasi UGM dan Hukum UII Yogyakarta yang menjadi dosen komunikasi di Unair Surabaya sejak tahun 1988 itu, "rating" (tingkat besar-kecilnya khalayak yang menikmati program) merupakan kontrol yang sebenarnya, karena "rating" itulah yang justru mengendalikan pemilik media massa.
Jawaban itu membuat alumni Magister (S2) Ilmu Komunikasi di UI itu dicecar dengan pertanyaan tentang "rating" oleh tiga guru besar yakni Prof Ramlan Surbakti (promotor), Prof Dedy N. Hidayat (ko-promotor), dan Prof Sasa Djuarsa Sendjaja.
Ketiga guru besar Ilmu Sosial itu mempertanyakan peran "rating" dalam mewakili kepentingan khalayak dan kemungkinan "rating" justru merupakan rekayasa pebisnis untuk mempengaruhi opini masyarakat.
"Pemilik modal itu hanya mampu mengendalikan aset media massa dan tidak akan mampu mengontrol isi (konten), tapi pemerintah juga perlu memperkuat lembaga pelayanan publik (LPP) seperti TVRI dan RRI untuk mengimbau opini yang merugikan publik," ujarnya menjelaskan.
Tentang konten dalam kaitannya dengan "rating" itu juga disoroti Prof Dedy. "Saya kira, rating itu rekayasa industri untuk membentuk keinginan masyarakat, misalnya, sinetron yang merupakan selera ciptaan industri media massa," katanya.
Menanggapi hal itu, Henri Subiakto yang pernah menjadi Direktur Media Watch (Lembaga Konsumen Media) dan Ombudsman Jawa Pos Grup itu menegaskan bahwa rating dan selera publik itu ibarat perdebatan tentang ayam dan telur.
"Mana dulu, ayam atau telur, saya kira hal itu saling berhubungan, berkaitan, dan membutuhkan. Begitulah, apakah rating atau selera publik yang harus dipilih, saya kira keduanya saling mendukung," katanya menegaskan.
Dalam disertasi bertajuk "Kontestasi Wacana Tentang Sistem Penyiaran yang Demokratis Pasca-Orde Baru: Analisis Konstruksi Sosial Relasi Negara, Industri, Penyiaran, dan Civil Society" itu, Henri menyinggung adanya kooptasi industri terhadap pemerintah dalam pembuatan regulasi.
"Ada kooptasi industri terhadap negara, karena saya menyaksikan sendiri regulasi tentang penyiaran yang diintervensi industri. Kalau hal itu dibiarkan maka regulasi kita akan rusak," papar penerima sejumlah program beasiswa dari Amerika, Australia, dan Korea Selatan itu.(*)
Sumber:
Contrary to popular belief, the Internet and mobile phones are not isolating people but enhancing their social worlds, according to a US survey.
The survey was sparked by a 2006 study by US sociologists who argued technology is advancing a trend seen since 1985 — Americans becoming more socially isolated, their social networks shrinking, and the diversity of their contacts decreasing.
But the study by the Pew Internet and American Life Project, titled “Social Isolation and New Technology,” found people’s use of mobile phones and the Internet is actually associated with larger and more diverse social networks.
“When we examine people’s full personal network... Internet use in general and use of social networking services such as Facebook in particular are associated with more diverse social networks,” the researchers said in a statement.
“Our key findings challenge previous research and commonplace fears about the harmful social impact of new technology.”
The telephone survey of 2,512 adults, conducted by Princeton Survey Research International in July and August this year, found that since 1985, the extent of social isolation has hardly changed at all.
It found 6 percent of the adult population has no one with whom to discuss important matters but this figure is largely unchanged since 1985.
The survey, however, did find that people’s “discussion networks” have shrunk about a third in the past 25 years and become less diverse as they contain fewer non-family members.
But people who have mobile phones and take part in a variety of Internet activities are associated with larger, more diverse core discussion networks.
On average, the size of people’s discussion networks is 12 percent larger among mobile phone users, nine percent larger for those who share photos online, and nine percent bigger for those who use instant messaging.
The diversity of people’s core networks tends to be 25 percent larger for mobile phone users, 15 percent larger for basic Internet users, and even larger for frequent Internet users, instant messagers, and those sharing photos online.
Internet users were as likely as anyone else to visit their neighbors and take part in local community activities.
“Cell phone users, those who use the Internet frequently at work, and bloggers are more likely to belong to a local voluntary association, such as a youth group or a charitable organization,” the study found.
“However, we find some evidence that use of social networking services (e.g., Facebook, MySpace, LinkedIn) substitutes for some neighborhood involvement.”
The researchers said most uses of the Internet and mobile phone have a positive relationship to neighborhood networks, voluntary associations, and use of public spaces.
“Our survey results suggest that people’s lives are likely to be enhanced by participation with new communication technologies, rather than by fearing that their use of new technology will send them into a spiral of isolation,” they concluded.
Reuters
Subscribe to:
Posts (Atom)

